Thursday, April 15, 2010

Markus di Tubuh Polri dan Kejaksaan

Sapu yang kotor tidak akan dapat membersihkan ruangan. Idiom itu rasanya tepat untuk menggambarkan ‘borok’ yang saat ini tengah menganga di tubuh institusi Polri. Kasus Gayus Halomoan seolah menjadi garam yang membuat bibit-bibit ‘borok’ yang telah ada menjadi luka penuh nanah berbau anyir.

Kasus Gayus Halomoan memang sarat dengan ‘keajaiban’. Tengok saja, di Pengadilan Negeri Tangerang, ia divonis bebas. Penelaah keberatan pajak perorangan dan badan hukum Kantor Pusat Direktorat Pajak itu dinilai tidak bersalah, meski telah dijerat dengan dua dakwaan –pencucian uang dan penggelapan.

Skandal pajak ini sepertinya akan adem ayem saja seandainya mantan Kepala Badan Reserse Kriminal Markas Besar Polri Komisaris Susno Duadji tidak angkat bicara. Berbekal sakit hati karena merasa diperlakukan tidak adil oleh Polri, Susno membuka ‘kotak pandora’ bahwa bebasnya Gayus tidak terlepas dari adanya main mata antara jaksa dan hakim. Meski pada awalnya terkesan cuek, perhatian publik yang demikian luas membuat Polri kemudian serius menangani kasus makelar pajak ini.

Peristiwa Gayus Halomoan makin menegaskan betapa keruh dan carut marutnya praktek keadilan di Indonesia. Polisi, jaksa, dan hakim, tiga pilar yang harusunya menjadi pengawal keadilan, justru menceburkan diri dalam kotor permainan persekongkolan. Mereka seenaknya memainkan ayat dan pasal demi mencapai apa yang diinginkan oleh pemesan (mereka yang mampu bayar). Keadilan yang seharusnya menjamin rasa aman dan adil, dipelintir sedemikian rupa demi memenuhi kepentingan pribadi.

Secara logika, setidaknya terdapat tiga lembaga yang harus bertanggung jawab akan kasus Gayus: Kepolisian, Kejaksaan, dan Direktorat Pajak. Pegawai negeri golongan III-A, dengan gaji per bulan hanya 12 juta, mempunyai rekening sebesar 28 milyar, beberapa rumah mewah, dan ke kantor selalu bergonta ganti mobil, seharusnya memicu kecurigaan teman maupun atasan. Lain halnya apabila ternyata ‘Gayus-Gayus’ lain juga banyak terdapat di Kejaksaan.

Institusi Polri, sebagai pemilik legitimasi sebagai penegak hukum, harus lebih serius mereformasi diri. Terkuaknya ‘borok’ ini membuktikan bahwa mekanisme pengawasan internal Polri sangatlah lemah. Tim Divisi Profesi dan Pengamanan Kepolisian haruslah lebih mengaktifkan mekanisme pengawasan preventif sehingga segala tindak tanduk aparat Polri terpantau. Tingkah polah para mafia dan markus harus segera dihentikan. Sjahril Djohan, Hapusan Hutagalung, Andi Kosasih perlu disikat habis sehingga tidak dapat keluar masuk seenaknya ke tubuh Polri. Keberadaan ruang khusus bagi markus di sebelah ruang Kapolri juga perlu ditelisik kebenarannya. Tidak kalah penting juga adalah iktikad baik dari Mantan Wakil Kapolri Komisaris Jenderal Makbul Padmanagara. Ia harus berani bicara sehingga labirin anyir makelar kasus ini terurai dengan tuntas.

Jaksa Agung Hendarman Supandji sudah menyatakan menemukan kejanggalan dalam proses penuntutan Gayus. Hukuman yang telah dijatuhkan kepada jaksa Cirus Sinaga hendaknya juga menjadi alarm bagi kejaksaan untuk lebih profesional dan mengedepankan keadilan dalam melakukan tuntutan. Para jaksa terkesan demikian mudah memilih pasal yang dikehendaki sehingga pasal yang sebenarnya relevan tetapi apabila dirasa mengancam cenderung tidak dipakai.

Indikasi keberadaan ‘Gayus-Gayus’ yang lain mengindikasikan bahwa tugas pembersihan institusi Polri, kejaksaan, dan Direktorat Pajak masih jauh dari selesai. Semoga Gayus Halomoan menjadi martil yang tidak ‘mati’ sia-sia. Bau anyir yang diterbitkan oleh Gayus semoga mampu membawa perubahan positif di tubuh Polri dan Kejaksaan. Apabila praktek markus ini tidak dipotong tuntas, sungguh tak dapat dibayangkan bagaimana nasib negeri ini di masa mendatang.

Monday, April 12, 2010

Buka Email

Cara buka email:

1. ketik www.gmail.google.com
2. di nama ketik: sudarmono.milan
3. di password ketik: namabapaknamaibu
(namabapaknamaibu kui diketik jenenge bapak karo bue. GANDENGTANPASPASI,
HURUF KECIL SEMUA)
4. tekan tombol sign in

5. melihat email masuk, tekan tombol inbox

6. kalo mau keluar, tekan tombol sign out

Sunday, April 11, 2010

Developing The Beloved City of Demak

As we all know, Demak is one of spiritual tourism in Central Java. In addition to saving potential as spiritual tourism, Demak, also known as one of the center producing Star Fruit, Mango, and sources of marine catches farrago. If managed well, Demak promising regional real income (PAD), which is significant.

However, unfortunately, all are potential Demak has not managed optimally. Local Government Demak city doesn’t have a grand design of city development. Compared to the neighboring city, Kudus or Jepara, Demak development is the relatively backward.

Demak urban development should start from the affirmation of identity. Demak should clearly positioned itself in the existence of 'marketing positioning of' the world of tourism. If the Kudus District have a famous trand mark as 'City of Kretek', Government of Demak should have dared to assert themselves Demak as the 'City Pilgrimage' or 'City Guardians'. After marketing positioning clear, then the grand design of the development of the town of Demak directed at the city's identity.

To support the positioning, the existence of infrastructure also must receive primary attention. Currently, the roads in the Demak region still has not built properly. Public awareness to make the city as a tourist city also needs to be improved.
Demak need to further open itself to the national community. However, Demak also must maintain local values and its genuine characters. A mix of modern culture and nobleness local values, will be a big capital to new efforts and commitment to develop Demak City in creating its new identity.


Terjemahan Indonesia:


Membangun Demak Kota Tercinta

Seperti kita tahu, Demak merupakan salah satu kawasan wisata rohani di Jawa Tengah. Di samping menyimpan potensi sebagai obyek wisata rohani, Demak juga dikenal sebagai salah satu sentra penghasil buah Belimbing, Mangga, dan sumber aneka rupa hasil tangkapan laut. Apabila dikelola dengan baik, Demak menjanjikan Penghasilan Asli Daerah (PAD) yang cukup signifikan.

Akan tetapi, sangat disayangkan, kesemua potensi Demak tersebut belum dikelola dengan optimal. Pemerintah Daerah kota Demak belum mempunyai grand design akan dibawa kemana pembangunan kota Demak. Dibandingkan kota tetangganya, Kudus atau Jepara, pembangunan di Demak relatif tertinggal dan terkesan dilaksanakan dengan asal.

Pengembangan kota Demak harus dimulai dari penegasan jati dirinya. Demak harus secara jelas memposisikan keberadaan dirinya dalam ‘marketing positioning’ dunia pariwisata. Apabila Kudus terkenal dengan trand mark ‘Kota Kretek’ maka hendaknya Demak harus berani menegaskan diri sebagai ‘Kota Ziarah’ atau ‘Kota Wali’. Setelah marketing positioning tersebut jelas, maka grand design pengembangan kota Demak diarahkan pada jati diri kota tersebut.
Untuk mendukung positioning tersebut, keberadaan infrastruktur juga harus mendapat perhatian utama. Saat ini, jalan-jalan di kawasan Demak masih belum terbilang bagus sehingga berdampak pada terganggungnya mobilitas dan kenyamanan pengunjung. Kesadaran masyarakat untuk menjadikan kotanya sebagai kota wisata juga perlu ditingkatkan.

Demak perlu lebih membuka dirinya terhadap pergaulan nasional. Akan tetapi, Demak juga harus tetap mempertahankan nilai-nilai lokal yang menjadi ciri khas dan kekuataannya selama ini. Perpaduan antara budaya modern dan keluhuran nilai-nilai lokal ajaran para wali tersebut, akan menjadi modal besar bagi upaya pemodernisasian dan komitmen baru Demak dalam mewujudkan jati diri barunya.

Thursday, January 21, 2010

Sri Mulyani, Srikandi Panggung Century

Wajah mereka sumringah. Senyum melebar. Kumpulan tangan mengepal. Mirip ekspresi Taufik Hidayat ketika jumping smasnya menukik tajam, telak menghujam, menyusur tepian lapangan Lin Dan. Kalau tidak salah hitung, jumlah mereka 40-an. Mirip lapis warna pelangi yang saling berhimpitan, aneka rupa warna jaket gagah membariskan mereka rapi di belakang larit meja panjang. Nama kelompok yang mereka sandang juga tak kalah elok: Jaringan Kampus Nasional.

Mudah ditebak, terminologi jaringan pasti menyiratkan aneka sulam benang yang memintal. Dan, jaringan yang kemarin bertemu dengan Panitia Khusus tentang Hak Angket Bank Century tersebut, merupakan kumpulan lintas jejaring gerakan mahasiswa. Layaknya Achilles yang dengan gagah menegakkan panji kebesaran Praha, tujan mereka juga tak kalah elok mulia: mengawal pengungkapan kasus Century.

Demokrasi memberi ruang untuk berpendapat dan bersikap. Konstitusi terang benderang menjamin kebebasan bersuara. Sampai di titik ini, tidak ada konflik melihat senyum lebar teman-teman mahasiswa meneriakkan yel-yel menggelegar, 'hidup mahasiswa'.

Century ibarat sinetron kejar tayang. Tiap detik, ia hilir mudik, wira wiri, menghias setiap media pemberitaan. Sedemikian intensnya, hingga andai kita bernafas, maka bau yang keluar adalah remah temah aroma Century.Kasus Century, dengan segala variannya, telah menjadi asteroid yang membombardir pertahanan bumi.

Siang itu, di antara kelebatan tayangan televisi, ada satu hal yang begitu mengusik nurani. Menohok begitu keras. Meninggalkan ceruk menganga, yang dengan cepat terisi oleh amuk kegeraman. Ada ngilu yang merambat ketika teman-teman mahasiswa yang perkasa, dengan begitu mudah membahanakan suara, 'Seret Sri Mulyani...'

Aku tidak mengenal Sri Mulyani secara personal. Tetapi, mengetahui rekam jejaknya, ada gejolak tidak rela ketika dengan begitu mudah ia dihina oleh sebuah kebijakan yang masih sangat layak diperdebatkan benar tidaknya.

Badan Pemeriksa Keuangan (BPK), dalam laporannya kepada DPR, memang menyimpulkan ada kesalahan kebijakan terkait penanganan Bank Century. Tetapi, dengan segala hormat akan kredibilitas para auditor BPK, penafsiran kebijakan sangat kental dengan nuansa psikologis-subjektif. Kemampuan seseorang, luas cakup pemahaman seseorang, beban tanggung jawab seseorang, latar belakang seseorang, memegang peran fital dalam memaknai sebuah kebijakan. Dalam perspektif ini, kesimpulan BPK tentang adanya salah kebijakan yang dilakukan Komite Stabilitas Sektor Keuangan (KKSK) sehingga memasukkan bank Century ke dalam 'perawatan' Lembaga Penjaminan Simpanan (LPS), masih menyisakan rongga yang sarat perdebatan.

Dalam catatan ini, saya tidak akan menelusuri jejak mengapa KSSK memasukkan Bank Century ke dalam dekapan LPS, terlalu banyak berita yang sudah mengulasnya. Yang mengganggu pikiran saya adalah, begitu mudahnya mereka menghujat Sri Mulyani. Panitia Khusus masih menggelar rapat, KPK masih bersiap menelisik kotak Pandora Century, tetapi mengapa amarah, caci, maki, dengan begitu mudah diletupkan. Dan, terlebih, kepada Sri Mulyani..

Saya memang agak subyektif di sini. Tetapi, siapa anak negeri yang tidak akan kagum terhadap Menteri Keuangan yang super cerdas tersebut. Tidak hanya kepintaran otaknya, sehingga ia diundang bicara di KTT G20 dimana bahkan Singapura pun tidak mendapatkan kesempatan, tetapi juga integritas moral dan profesionalitas kinerjanya.

Di kala ibu kandungnya sakit keras, ia memilih tetap bekerja mengawal rupiah agar tidak semakin terjun bebas. Ia 'menepikan' satu nyawa yang telah memberinya kehidupan, demi menyelamatkan jutaan nyawa penduduk Indonesia.

Di saat pemerintah hendak melindungi konglomerat yang tersandung masalah, ia lantang menyuarakan ketidaksetujuan. Parasnya yang ayu bahkan tidak mengurangi ketegasan meminta mundur andai sang konglomerat tetap diutamakan. Dalam dunia komedi politik Indonesia, bahkan saat mereka yang sekarang berteriak lantang berkuasa, pernahkan kita mendapati tokoh meminta mundur dari lindan nikmat peluk kekuasaan?

Ketika departemen lain masih ingin mempertahankan gemuk struktur-tambun-lamban birokrasi, ia menjadi pioneer reformasi birokrasi.

Dan, menyoal kecerdasannya, sungguh betapa kita akan dibuat takjub. Bahkan dunia pun dibuat terpana dengan kemampuannya mengolah aneka angka menjadi benteng kokoh yang menopang tegak perekonomian Indonesia. Berturut 2 kali, ia terpilih sebagai Menteri Keuangan terbaik di dunia.

Begitu mudah manusia dijangkit lupa. Untuk hal-hal yang tidak diinginkan, amnesia begitu gampang mewabah. Sungguh, sulit untuk mencari pejabat dengan integritas moral, profesionalitas kerja, dan kecerdasan setara dengan Sri Mulyani.

Akhirnya, tiada akan pernah diberi tempat untuk korupsi. Ia merupakan kejahatan yang sangat luar biasa. Tetapi, mari, kemuliaan langkah memperjuangkannya, tidak dilakukan dengan tindakan yang justru meluruhkan esensi moralitas. Begitu sejuk ucapan seorang yang catatannya masih kita jumpai di pinggir sebuah majalah, 'Janganlah kita ribut. Biar pengadilan yang membuktikan.'

Tetap tegar, ibu. Berbaris berjajar dengan pemakai gelang 'M', simpati, doa, dan salam hormatku untuk ibu.